Cerebral Palsy
Oleh Lulu’ Luthfiatus Sholiha
Tiba juga waktunya kelulusan, aku bersekolah disalah satu sekolah
yang berada di Yogyakarta, tepatnya di SLB, orang tuaku menyekolahkanku
disekolah itu karna kekurangan yang ada pada diriku. Yahh, begitulah aku tak
normal seperti anak – anak lain pada umumnya, aku selalu terpatah – patah saat
berbicara, tanganku sedikit kaku dan tak bisa bergerak bebas seperti orang –
orang pada umumnya, terkadang aku begitu berkecil hati karna kekuranganku ini
aku sering disebut sebagai si “idiot”oleh teman – temanku, tapi aku telah
berjanji pada diriku, pada mama, pada papa, pada Rey bahwa aku akan membuktikan
kesemua orang yang menghinaku bahwa suatu saat kesuksesan akan menghampiriku
lebih dari yang mereka bisa. I promise to all, Oh God i’am wish.
...........................................
Semuanya dimulai saat aku masih berada di tempat kelahiranku, di
Solo ! aku masih menduduki bangku sekolah dasar (SD) yang cukup terkenal di
Solo. Saat mendaftar sekolah banyak sekolah yang tidak menerimaku karena
kekuranganku tapi sekolah ini lain aku di terima melalui tes menulis dan
menggambar dan beberapa pertanyaan seputar anak SD. Aku sangat bersyukur saat
itu karena aku lolos. Di sekolah aku hanya memiliki seorang teman yang cukup dekat
denganku, dia bahkan mau bersahabat denganku, namanya adalah Rey.
Saat itu aku menduduki kelas 5 SD, seorang guru menyuruhku untuk
membacakan puisi buatan masing – masing, “Cinta sekarang giliran kamu!” printah
seorang guruku. “ahh apaan bu, si idiot nggak usah baca bu, ngomong aja nggak
jelas apa lagi baca puisi, huuuu idiot, dasar idiot !” sorak teman – temanku
terutama temanku yang bernama Vera yang entah tidak tau kenapa dia begitu
membenciku. Semua hinaan itu, cacian itu aku lupakan seketika karena aku
menyadari realita yang ada pada kehidupanku. Aku memang pantas di sebut sebagai
si idiot !
Sesampainya di rumah yang kulakukan hanyalah menulis, menulis
segala hal yang menyakitkanku, segala hal yang membuatku berkecil hati,
mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Aku tidak akan menyerah aku percaya
bahwa aku pasti juga memiliki kelebihan di balik kekuranganku ini. “Cinta kamu
belum makan, makan dulu ya nak!” kata mamaku di depan pintu kamarku, aku sedang
tidak ingin berbicara tapi mama membuka pintu kamarku “Cinta kamu kenapa
sayang?”,”eng-gak pa-pa ma-ma !” jawabku terpatah – patah “Cinta yakin?”. Aku
hanya menganggukkan kepalaku, tiba – tiba mama memelukku dan mengucapkan
beberapa kata dari mulutnya “Cinta.. kamu nggak boleh sedih ya nak, semua orang
itu pasti memiliki kekurangan, cinta nggak perlu mikirin mreka yang menghina
cinta, cinta tau nggak? Bahwa sesungguhnya orang yang menghina atau mengolok –
olok orang lain mreka jauh lebih hina dari yang mreka hina, cinta juga harus
ingat bahwa masih ada orang yang lebih susah dari cinta.” Sedikit kata – kata
itu benar – benar melegakanku. Aku pun juga memeluk mama dengan erat dan
berterimakasih.
Sejak kenaikanku ke kelas 6 SD aku pindah ke sekolah SLB di
Yogyakarata. Aku merasa tempat itu lebih cocok untukku. Sebelum menuju SLB aku
berpamitan dengan sahabat kesayanganku Rey, ia menangis saat itu, aku
memberinya satu kenang – kenangan sebuah jam tangan laki – laki, dan ia
memberiku sebuah gelang berwarna hijau dengan perniknya yang lucu. Aku anggap perpisahan
itu sebagai perpisahan yang terakhir karna aku, papa, dan mama sepakat untuk
pindah dan menetap di Yogyakarta, tapi aku masih berharap suatu saat kan
kembali bertemu kembali dengan Rey.
Di yogyakarta banyak hal membuatku sadar bahwa di sini masih sangat
banyak yang memliliki kekurangan. Di sekolah SLB aku menyadari bahwa aku
memiliki kekurangan yang tak seberat mreka yang ada di sini. Ada yang bahkan
memiliki wajah tak sempurna sedang aku masih memiliki wajah yang sempurna aku
sangat bersyukur disini, Thanks to Allah. I believe that Allah very equitable.
Saat menduduki SMA aku meraih banyak sekali penghargaan dari
berbagai lomba semacam karya tulis. Suatu hari saat berkunjung ke pantai
parangtritis aku bertemu dengan teman – teman lamaku. Yaah, mreka. Wajah –
wajah yang tak asing lagi bagiku. “Cinta, ini kamu kan”, Rey bertanya
padaku”Rey, itukah kau?”,”kamu sekarang makin cantik, kamu udah bisa ngomong
lancar, aku bener – bener seneng bisa ketemu kamu taa, gelang itu ternyata masih kamu pakai ya taa”
, “ aku hanya membalasnya dengan senyuman, ternyata jam pemberianku juga masih
di pakai Rey padahal jam itu seperti milik anak kecil. Saat itu di tengah
obrolan kami, seorang wanita memeluk Rey dari belakang. “Dorrrrr!”, kata seorang
wanita itu. “apaan sih Ver, main – main peluk aja lo”, “ looh, kita kan
pacaran”,”haah pacaran, kita nggak pernah pacaran, jelas !”, “apa sih Rey pasti
gara – gara si jelek idiot kan, atau itu cewek nggak jelas yang lagi ngomong
sama kamu?”, kata Vera saat itu, “idiot? Maksud kamu si Cinta?”, “ lo kenal
anak idiot itu dari mana?”, “ yaa karena aku ini cinta, kamu vera kan?”. Hening
saat itu kita hanya saling berpandangan. Tiba – tiba Vera mendorongku untuk
pergi, tapi Rey memarahi Vera, dan aku langsung pergi menuju mobil yang
membawaku ke pantai bersama rombongan siswa SLB lainnya. Ku dengar dari mobil tampak Rey memanggil –
manggil namaku.
Pertemuan singkatku dengan Rey benar – benar merusak tidur
nyenyakku, aku slalu bertanya – tanya ada apa antara Vera dengan Rey? Dan kenapa
pula aku begitu ingin tau akan hal ini, mungkinkah perasaan ini adalah karena
aku jatuh cinta. Entahlah terkadang aku berfikir bahwa namaku tak seindah CINTA
yang katanya mewarnai kehidupan seseorang. Seminggu setelah saat itu sebuah
peasn di kirimkan padaku melalui pos, surat dari Vera yang berisi bahwa aku
tidak boleh mengganggu Rey sedikitpun, dan dalam surat itu berulang – ulang di
tulis bahwa Rey adalah milik Vera. Aku tak membalas pesan itu, dan memilih
menciptakan berbagai puisi, cerpen dan artikel yang nantinya akan terus di
terbitkan keberbagai penjuru daerah. Begitu cepat bagiku waktu hampir 7 tahun
di SLB aku sudah bisa berbicara lancar, tanganku mulai normal karena terapi
yang bertahun – tahun ku jalani, prestasi yang kian melonjak, dariku yang
dulunya hanya anak ingusan, atau bahkan anak aneh, dan anak yang di sebut si
idiot. Kini aku telah lulus SMA aku menyadari bahwa aku mencintai Rey, akupun
masih ingat bahwa aku akan membuktikan suatu kesuksesan yang akan aku
persembahkan untuknya kelak, itulah janjiku saat kecil dulu.
Perjalananku masih panjang, aku benar – benar senang di terima
kuliah di perguruan tinggi UI suatu kebanggaan tersendiri aku kuliah tanpa
biaya sepeserpun. Saat di UI aku tidak sengaja bertemu dengan Rey, bahkan
ternyata seiring berjalannya waktu aku se fakultas dengannya, kami duduk selalu
berdampingan, kini kami makin sering bersama seperti saat kecil dahulu. Rey
adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, lelaki tampan yang sempurna
meurutku.
Waktu tiga tahun telah berlalu aku dan Rey menjadi sepasang
kekasih, walau sejak aku mulai normal banyak lelaki yang lebih baik dari nya
mencintaiku tetap saja Rey adalah cinta pertama sekaligus sahabat terbaikku.
Rey selalu meyakinkanku bahwa semua wanita yang mendekatinya tak pernah menjadi
wanita yang di cintainya. Termasuk Vera yang sedari dulu mencintai Rey. Kami
telah wisuda dan aku menjadi mahasiswa terbaik di UI yang akhirnya memiliki
pekerjaan menjadi seorang guru di SLB tempat para anak terkena cerebral palsy
sekaligus menjadi seorang sikolog, begitupun Rey ia wisuda bersamaan denganku.
Kami akhirnya memutuskan untuk menikah.
Umur pernikahanku dengan Rey telah genap tujuh tahun, kami memiliki
seorang anak perempuan yang sempuna dan teramat cantik.
Suatu hari seorang anak di daftarkan di SLB, nama nya adalah
Verinda seorang anak yang memiliki kekurangan yang sama sepertiku dahulu bahkan
lebih parah lagi, yang ku kagetkan dari anak ini adalah orang tuanya karena
ternyata ia adalah Vera yang dulu menghinaku kini menangis meminta maaf
kepadaku.
Dan begitulah akhirnya TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA, bahak yang telah sempurna sekalipun tidak
diperbolehkan menghina, atau bahkan terus mengolok – olok orang lain, hukum
karma masih berlaku, semua yang suka menghina suatu saat akan kembali di hina.
Ingatlah slalu bahwa cerebral palsy bukanlah halangan untuk mewujudkan cita –
cita. Semua akan terwujud apa bila kita mau bersungguh – sungguh. Karena Tuhan
selalu menciptakan mahluk-Nya dengan segenap kekurangan dan kelebihan.
Kesempurnaan seseorang tidak di ukur dari seberapa sempurna dirinya di pandang
mata, melainkan di ukur dari seberapa besar imannya,taqwanya, seberapa besar
kesungguhannya. Tuhan memang selalu adil. Teruslah mengikuti alur perjalananmu.
Senang atau pun sedih semuanya tetap di lewati. Karena Tuhan selalu memberi
kado atas apa yang kita lakukan, semua selalu AKAN IDAH PADA WAKTUNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar