Selasa, 16 Juni 2015

CERPEN MOTIVASI : Cerebral Palsy

Cerebral Palsy
Oleh Lulu’ Luthfiatus Sholiha
Tiba juga waktunya kelulusan, aku bersekolah disalah satu sekolah yang berada di Yogyakarta, tepatnya di SLB, orang tuaku menyekolahkanku disekolah itu karna kekurangan yang ada pada diriku. Yahh, begitulah aku tak normal seperti anak – anak lain pada umumnya, aku selalu terpatah – patah saat berbicara, tanganku sedikit kaku dan tak bisa bergerak bebas seperti orang – orang pada umumnya, terkadang aku begitu berkecil hati karna kekuranganku ini aku sering disebut sebagai si “idiot”oleh teman – temanku, tapi aku telah berjanji pada diriku, pada mama, pada papa, pada Rey bahwa aku akan membuktikan kesemua orang yang menghinaku bahwa suatu saat kesuksesan akan menghampiriku lebih dari yang mereka bisa. I promise to all, Oh God i’am wish.
                                    ...........................................
Semuanya dimulai saat aku masih berada di tempat kelahiranku, di Solo ! aku masih menduduki bangku sekolah dasar (SD) yang cukup terkenal di Solo. Saat mendaftar sekolah banyak sekolah yang tidak menerimaku karena kekuranganku tapi sekolah ini lain aku di terima melalui tes menulis dan menggambar dan beberapa pertanyaan seputar anak SD. Aku sangat bersyukur saat itu karena aku lolos. Di sekolah aku hanya memiliki seorang teman yang cukup dekat denganku, dia bahkan mau bersahabat denganku, namanya adalah Rey.
Saat itu aku menduduki kelas 5 SD, seorang guru menyuruhku untuk membacakan puisi buatan masing – masing, “Cinta sekarang giliran kamu!” printah seorang guruku. “ahh apaan bu, si idiot nggak usah baca bu, ngomong aja nggak jelas apa lagi baca puisi, huuuu idiot, dasar idiot !” sorak teman – temanku terutama temanku yang bernama Vera yang entah tidak tau kenapa dia begitu membenciku. Semua hinaan itu, cacian itu aku lupakan seketika karena aku menyadari realita yang ada pada kehidupanku. Aku memang pantas di sebut sebagai si idiot !
Sesampainya di rumah yang kulakukan hanyalah menulis, menulis segala hal yang menyakitkanku, segala hal yang membuatku berkecil hati, mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Aku tidak akan menyerah aku percaya bahwa aku pasti juga memiliki kelebihan di balik kekuranganku ini. “Cinta kamu belum makan, makan dulu ya nak!” kata mamaku di depan pintu kamarku, aku sedang tidak ingin berbicara tapi mama membuka pintu kamarku “Cinta kamu kenapa sayang?”,”eng-gak pa-pa ma-ma !” jawabku terpatah – patah “Cinta yakin?”. Aku hanya menganggukkan kepalaku, tiba – tiba mama memelukku dan mengucapkan beberapa kata dari mulutnya “Cinta.. kamu nggak boleh sedih ya nak, semua orang itu pasti memiliki kekurangan, cinta nggak perlu mikirin mreka yang menghina cinta, cinta tau nggak? Bahwa sesungguhnya orang yang menghina atau mengolok – olok orang lain mreka jauh lebih hina dari yang mreka hina, cinta juga harus ingat bahwa masih ada orang yang lebih susah dari cinta.” Sedikit kata – kata itu benar – benar melegakanku. Aku pun juga memeluk mama dengan erat dan berterimakasih.
Sejak kenaikanku ke kelas 6 SD aku pindah ke sekolah SLB di Yogyakarata. Aku merasa tempat itu lebih cocok untukku. Sebelum menuju SLB aku berpamitan dengan sahabat kesayanganku Rey, ia menangis saat itu, aku memberinya satu kenang – kenangan sebuah jam tangan laki – laki, dan ia memberiku sebuah gelang berwarna hijau dengan perniknya yang lucu. Aku anggap perpisahan itu sebagai perpisahan yang terakhir karna aku, papa, dan mama sepakat untuk pindah dan menetap di Yogyakarta, tapi aku masih berharap suatu saat kan kembali bertemu kembali dengan Rey.
Di yogyakarta banyak hal membuatku sadar bahwa di sini masih sangat banyak yang memliliki kekurangan. Di sekolah SLB aku menyadari bahwa aku memiliki kekurangan yang tak seberat mreka yang ada di sini. Ada yang bahkan memiliki wajah tak sempurna sedang aku masih memiliki wajah yang sempurna aku sangat bersyukur disini, Thanks to Allah. I believe that Allah very equitable.
Saat menduduki SMA aku meraih banyak sekali penghargaan dari berbagai lomba semacam karya tulis. Suatu hari saat berkunjung ke pantai parangtritis aku bertemu dengan teman – teman lamaku. Yaah, mreka. Wajah – wajah yang tak asing lagi bagiku. “Cinta, ini kamu kan”, Rey bertanya padaku”Rey, itukah kau?”,”kamu sekarang makin cantik, kamu udah bisa ngomong lancar, aku bener – bener seneng bisa ketemu kamu  taa, gelang itu ternyata masih kamu pakai ya taa” , “ aku hanya membalasnya dengan senyuman, ternyata jam pemberianku juga masih di pakai Rey padahal jam itu seperti milik anak kecil. Saat itu di tengah obrolan kami, seorang wanita memeluk Rey dari belakang. “Dorrrrr!”, kata seorang wanita itu. “apaan sih Ver, main – main peluk aja lo”, “ looh, kita kan pacaran”,”haah pacaran, kita nggak pernah pacaran, jelas !”, “apa sih Rey pasti gara – gara si jelek idiot kan, atau itu cewek nggak jelas yang lagi ngomong sama kamu?”, kata Vera saat itu, “idiot? Maksud kamu si Cinta?”, “ lo kenal anak idiot itu dari mana?”, “ yaa karena aku ini cinta, kamu vera kan?”. Hening saat itu kita hanya saling berpandangan. Tiba – tiba Vera mendorongku untuk pergi, tapi Rey memarahi Vera, dan aku langsung pergi menuju mobil yang membawaku ke pantai bersama rombongan siswa SLB lainnya. Ku  dengar dari mobil tampak Rey memanggil – manggil namaku.
Pertemuan singkatku dengan Rey benar – benar merusak tidur nyenyakku, aku slalu bertanya – tanya ada apa antara Vera dengan Rey? Dan kenapa pula aku begitu ingin tau akan hal ini, mungkinkah perasaan ini adalah karena aku jatuh cinta. Entahlah terkadang aku berfikir bahwa namaku tak seindah CINTA yang katanya mewarnai kehidupan seseorang. Seminggu setelah saat itu sebuah peasn di kirimkan padaku melalui pos, surat dari Vera yang berisi bahwa aku tidak boleh mengganggu Rey sedikitpun, dan dalam surat itu berulang – ulang di tulis bahwa Rey adalah milik Vera. Aku tak membalas pesan itu, dan memilih menciptakan berbagai puisi, cerpen dan artikel yang nantinya akan terus di terbitkan keberbagai penjuru daerah. Begitu cepat bagiku waktu hampir 7 tahun di SLB aku sudah bisa berbicara lancar, tanganku mulai normal karena terapi yang bertahun – tahun ku jalani, prestasi yang kian melonjak, dariku yang dulunya hanya anak ingusan, atau bahkan anak aneh, dan anak yang di sebut si idiot. Kini aku telah lulus SMA aku menyadari bahwa aku mencintai Rey, akupun masih ingat bahwa aku akan membuktikan suatu kesuksesan yang akan aku persembahkan untuknya kelak, itulah janjiku saat kecil dulu.
Perjalananku masih panjang, aku benar – benar senang di terima kuliah di perguruan tinggi UI suatu kebanggaan tersendiri aku kuliah tanpa biaya sepeserpun. Saat di UI aku tidak sengaja bertemu dengan Rey, bahkan ternyata seiring berjalannya waktu aku se fakultas dengannya, kami duduk selalu berdampingan, kini kami makin sering bersama seperti saat kecil dahulu. Rey adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki, lelaki tampan yang sempurna meurutku.
Waktu tiga tahun telah berlalu aku dan Rey menjadi sepasang kekasih, walau sejak aku mulai normal banyak lelaki yang lebih baik dari nya mencintaiku tetap saja Rey adalah cinta pertama sekaligus sahabat terbaikku. Rey selalu meyakinkanku bahwa semua wanita yang mendekatinya tak pernah menjadi wanita yang di cintainya. Termasuk Vera yang sedari dulu mencintai Rey. Kami telah wisuda dan aku menjadi mahasiswa terbaik di UI yang akhirnya memiliki pekerjaan menjadi seorang guru di SLB tempat para anak terkena cerebral palsy sekaligus menjadi seorang sikolog, begitupun Rey ia wisuda bersamaan denganku. Kami akhirnya memutuskan untuk menikah.
Umur pernikahanku dengan Rey telah genap tujuh tahun, kami memiliki seorang anak perempuan yang sempuna dan teramat cantik.
Suatu hari seorang anak di daftarkan di SLB, nama nya adalah Verinda seorang anak yang memiliki kekurangan yang sama sepertiku dahulu bahkan lebih parah lagi, yang ku kagetkan dari anak ini adalah orang tuanya karena ternyata ia adalah Vera yang dulu menghinaku kini menangis meminta maaf kepadaku.

Dan begitulah akhirnya TIDAK ADA MANUSIA  YANG SEMPURNA, bahak  yang telah sempurna sekalipun tidak diperbolehkan menghina, atau bahkan terus mengolok – olok orang lain, hukum karma masih berlaku, semua yang suka menghina suatu saat akan kembali di hina. Ingatlah slalu bahwa cerebral palsy bukanlah halangan untuk mewujudkan cita – cita. Semua akan terwujud apa bila kita mau bersungguh – sungguh. Karena Tuhan selalu menciptakan mahluk-Nya dengan segenap kekurangan dan kelebihan. Kesempurnaan seseorang tidak di ukur dari seberapa sempurna dirinya di pandang mata, melainkan di ukur dari seberapa besar imannya,taqwanya, seberapa besar kesungguhannya. Tuhan memang selalu adil. Teruslah mengikuti alur perjalananmu. Senang atau pun sedih semuanya tetap di lewati. Karena Tuhan selalu memberi kado atas apa yang kita lakukan, semua selalu AKAN IDAH PADA WAKTUNYA. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar